SAHABAT YANG MEMBERIKU SAYAP


SAHABAT YANG MEMBERIKU SAYAP

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

“Sampai aku mati, tetaplah disampingku ….” rasanya itu adalah pernyataan paling ekstrim seumur hidupku. Kalimat yang sekitar 6 tahun lalu kuucapkan ditengah semangat yang mendekati keputusasaan.

 

Menyusuri kembali peristiwa 6 tahun lalu yang lalu. Sebuah permata yang akan selalu aku simpan baik-baik dalam relung hatiku. Jika ada sahabat yang melebihi kerabat. Hanya satu orang yang bisa kupercaya dalam segalanya. Ia yang menjelma layaknya malaikat pembawa cahaya. Ukhty As…

 

***

Namanya Astutik, tetapi semua teman memanggilnya Mama As, hal itu bukannya tanpa alasan. Sosoknya yang pendiam, keibuan plus telaten membuat semua sepakat memanggilnya demikian. Sampai sekarang pun aku tidak mengenal lebih dalam sosok satu ini. Karena pertemuan kami hanyalah sekejap saja. Setidaknya itulah yang kurasakan. Padahal kami 2 tahun tinggal bersama dalam satu atap, dormitory Blok P2-2-1 Yellow Face Batamindo. Kesibukan dalam pekerjaan, shift yang tidak berbarengan, waktu yang tersita oleh lemburan menjadikan komunikasi sulit terjalin. Sampai saat ini malu selalu menyeruak dalam hatiku ketika memoar ini berjalan kembali ke masa itu. Saat tersulit dalam ujian hidupku.

 

***

“Anda lumpuh …” hanya kalimat itulah yang bisa kutangkap. Setelahnya aku tidak bisa mencerna kalimat yang diucapkan dokter yang sore itu memeriksaku. Tidak ada air mata yang keluar ketika perawat membawaku ke sebuah kamar yang serba putih. Setelah dibaringkan, kucoba memejamkan mata. Berharap semua ini hanya mimpi, yang jika aku bangun nanti semua akan normal seperti biasanya. Tetapi saat tengah malam kuterjaga, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan seumur hidupku kini menyertaiku. Sial! Kenapa kedua kakiku tidak bisa aku rasakan. Kucoba memukul-mukulinya dengan baki yang ada di atas meja sebelah kanan tempat tidurku, pasti kalau dipukul keras akan terasa sakitnya. Tetapi dicoba beberapa kalipun tetap tidak terasa.

 

 

Kucoba bangkit. Ahhh, dibagian tengah punggungku terasa sakit sekali. Sambil tidur tetap kucoba memukuli kakiku, berharap ada rasa sakit yang kurasakan. Hingga dua orang perawat datang tergesa lalu memegang kedua tanganku, mencegahku melakukan perbuatan yang mereka anggap gila!

 

***

 

Sayup-sayup kudengar suara orang membaca surat Ar-Rahman, membangunkanku dari tidur yang dipaksa (yang kuingat, aku merasa gelap setelah perawat itu mensutikkan sesuatu di tanganku). Ketika kubuka mata, seulas senyum menyapa. Mama As … Kuisyaratkan agar ia menghatamkan bacaan Ar-Rahman itu. Agak lama ia menyelesaikan bacaannya. Memang jauh dari lantunan merdu, sesekali ia mengulangi untuk membetulkan tajwidnya. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa tahu aku dirawat disini, mungkin saja kakakku yang menghubunginya.

Apa dia tidak bekerja, atau mungkin masuk shift malam hingga siang begini menjengukku. Aku hanya memandanginya dalam diam, lebih tepatnya ingin mengacuhkannya. Aku tidak ingin dikasihani dan tidak ingin membuat repot orang lain dengan keadaanku, jika aku mendiamkannya pasti dia tidak betah dan akan pergi. Begitulah yang ada dalam pikiranku saat itu.

 

Tiga hari berlalu, dia tetap setia menjengukku. Lebih tepatnya merawatku. Jika di pagi hari mbak Lala, kakakku yang merawat. Maka sore sampai subuh Mama As yang menjaga. Tengah malam saat aku terjaga (sejak dirawat di rumah sakit, tengah malam aku selalu terjaga sampai pagi), dia tiba-tiba menangis dan memelukku erat.

 

“Mungkin aku bukan teman yang bisa kau andalkan disaat seperti ini, tetapi setidaknya, jika tidak bisa tersenyum seperti biasanya, tolong bicaralah, atau setidaknya menangislah Deb… Jangan diam seperti ini …” Kata-kata yang tidak pernah terucap dari kakakku sendiri, keluar dari mulutya. Dipeluk seperti itu membuatku meleleh, pertahananku ambruk. Entah kenapa air mata tidak bisa berhenti keluar. Segala yang ada dihatiku kutumpahkan.

 

“Apakah Alloh tidak sayang padaku … apa salah aku mbak, hingga Alloh mencabut nikmat berjalanku. Tiba-tiba saja, tidak bisa berjalan begini. Dosa besar apa yang aku perbuat, hingga ujian seperti ini menghampiri. Apa DIA mau menguji keimananku?? Bagaimana bisa, jika sujud saja aku tidak mampu! Padahal seharusnya DIA tahu, bahwa saat sujudlah kenikmatan terbesarku! Lalu, bagaimana pula aku harus menemui ibukku. Jika sebulan lagi, saat pulang ke Jawa mendapati anaknya cacat. Lumpuh!!”

 

“Aku … aku ingin bisa berjalan lagi. Tidak, aku harus bisa berjalan lagi! Aku tidak ingin lumpuh … Aku tidak mau seumur hidup cacat!! Aku harus gimana … harus gimana mbak …” aku menangis sejadi-jadinya. Tidak bisa kuingat wajah Mama As saat itu, yang kurasakan ia menggenggam erat tanganku.

 

***

Seminggu tepat aku dirawat, hari itu aku baru saja berkenalan dengan satu-satunya teman sekamarku. Dari obrolan kami, dia menderita leukimia. Nasib kami tidak jauh berbeda. Sama-sama anak perantauan, jauh dari keluarga. Hanya seorang kakak yang menjadi sandaran. Bedanya tidak pernah kulihat seorang pun teman menungguinya, layaknya yang dilakukan Mama As. Sampai sekarang Mama As masih setia merawatku. Keberuntungan, rahmat besar yang tidak pernah kusadari seminggu ini.

 

“Mama As nggak capek?” malam itu aku bertanya padanya. Seperti biasanya ia hanya tersenyum. Khas Mama As, tidak banyak bicara. “Kenapa mau repot-repot ngerawat aku?, padahal mbakku aja nggak berani jaga malam begini di rumah sakit. Persendiannya langsung lemas jika ada di rumah sakit malam hari, bisa-bisa jadi pasien juga bila dipaksa…” kucoba mengorek jawaban darinya. Mata kami saling berpandangan, lama.

 

“Hmm, kenapa yaa…” Dia menggantung kalimatnya. Lalu pelan-pelan berjalan menuju ke arah jendela yang ada di sebalah kiri ranjangku. Sambil menatap keluar yang gelap dia bertutur. “Karena Debbi sahabatku yang berharga. Mungkin kamu gak pernah mengingatnya, dulu masa-masa awal tinggal sedormitory hanya kamu yang tersenyum dan mau bicara padaku. Jika semua teman-teman jenuh dengan sifatku yang pendiam, kamu tidak! Selama ini aku sulit mendapat teman karena sifat diamku ini, tetapi sepertinya kamu mau menerima kekuranganku. Dan yang paling membuatku bahagia, karena kamu … mengenalkanku pada Alloh, hal yang selama ini kurasakan paling jauh dariku. Metamorfosis tertutupinya aurat ini, adalah hal yang tidak pernah terpikirkan dalam hidup sebelum aku mengenalmu…” Entah mengapa dadaku malah sesak mendengarkan tuturnya yang seharusnya membuatku senang. Sebaik itukah diriku dimatanya, padahal …

 

“Jika mau jujur … Mama As bodoh sekali!” punggungnya yang membelakangiku langsung berbalik saat mendengar kalimatku tadi. “Aku nggak sebaik itu … aku menyapamu, ngobrol, itu hanyalah semata-mata tugasku sebagai leader room. Jika ada hidayah yang Alloh berikan padamu, bukankah itu karena usahamu sendiri. Aku hanya meminjamimu buku-bukuku, selebihnya pencarian itu kau lakukan sendiri. Aku juga sama seperti teman serumah, mengolok-olok sifatmu itu di belakangmu. Menertawakan tingkah canggungmu. Apa kamu senaif itu, selalu memandang sikap orang dari kacamata pergaulanmu yang tidak luas? Lalu jika perlakuanmu saat ini adalah rasa balas budi atas apa yang kulakukan, itu tidak sebanding bukan…” Dia menatapku lama, sebuah senyuman yang terpaksa berusaha disunggingkan. Tapi aku menangkap ada bening yang menggenang di pelupuk matanya.

 

“Aku sholat lail dulu …” pamitnya bergegas. Rasanya kata-kataku keterlaluan, tetapi itu kenyataan. Aku tidak ingin memanfaatkan keluguannya itu. Mungkin dia akan marah, dan tidak akan mau lagi menemaniku di ruang yang penuh bau obat ini. Tetapi itu lebih baik, daripada aku membohonginya.

 

Tidak lebih dari 15 menit aku sendiri, tiba-tiba di ruang sebelahku terjadi keramaian. Dari kaca kecil di pintu kamar, dapat kulihat dokter dan perawat berlalu-lalang. Banyak orang berkerumun, dan tidak berselang lama kemudian terdengar jerit pilu wanita memecah keheningan malam. Matikah pasien diruang sebelah, sepertinya iya. Satu hal yang luput dari kekhawatiranku, kematian. Seketika pikiranku kalut, tidak terbayang jika hal itu terjadi padaku. Aku, belum siap mati!

 

Esoknya, kejadian yang lebih mengguncang mentalku terjadi. Giliran teman sekamarku yang meninggal. Tidak bisa kupercaya, padahal malam hari kemarin dia begitu sehat. Seharusnya dia pulang hari ini, karena dokter sudah mengijinkannya kemarin. Baru kali ini kulihat, berat dan sakitnya sakaratul maut. Kulihat perutnya yang tiba-tiba membuncit, tenggorokannya yang tercekat, merasakan sakit yang luar biasa. Setelah itu, aku tidak bisa melihatnya. Karena perawat buru-buru memindahkanku ke ruang lain, naasnya ruang baruku adalah ruang yang ditempati pasien yang dini hari tadi meninggal. Yang membuatku yakin bahwa teman sekamarku telah tiada, adalah suara lengking teriakan kakaknya yang menusuk pori-pori tubuhku. Saat itu kakakku sendiri juga ketakutan, terlihat jelas kakinya gemetaran dan keringat keluar dari wajahnya. Pucat! Ketegarankulah yang biasanya menenangkannya, tetapi saat itu jiwaku lebih terguncang dari dirinya. Kami hanya bisa diam dalam kemelut pikiran masing-masing.

 

***

Malamnya, ternyata Mama As datang. Hal yang membuatku terkejut sekaligus tenang, mengingat perkataanku yang pedas kemarin. Ia mungkin sudah tau kenapa aku pindah ruang, karena ia tidak bertanya apapun padaku malam itu. Sikapnya biasa saja, sama seperti sebelumnya. Merawatku dalam diam, sesekali bertanya apa aku butuh sesuatu.

 

“Sampai aku mati, tetaplah disampingku ….” kupegang erat lengannya, ketika kudapati diri terjaga dari mimpi buruk saat itu. Ia kaget sekali. Aku tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Rasanya seluruh film hidupku diputar kembali, sialnya hanya keburukan-keburukan yang mampu kuingat. Tidak ada sedikitpun aku merasa pernah berbuat kebaikan. Lalu jika aku mati … Alloh ….

 

“Aku mungkin tidak bisa menjadi temanmu lagi ….” aku sudah memperkirakan itu, tapi sungguh hatiku terkejut sekali mendengar kalimat itu keluar dari mulut Mama As. Aku berusaha tersenyum, tapi malah isakku semakin menjadi. “Iya … gak pa-pa, aku mengerti …” Aku harus membesarkan hatiku sendiri.

“Maaf, aku tidak ingin jadi temanmu lagi. Karena sekarang, aku ingin jadi saudarimu ukhty …” ia berkata lembut sambil berlinang air mata.  Tak tertahankan lagi, kami berpelukan. Lama sekali.  

 

“Ya Alloh …. Fabiayyiaalaairobbikumaatukaddibaan”, berkali-kali ayat itu menggema dalam hatiku. Alloh …. aku tidak akan pernah lagi menghujat takdir dan nasibku, keadilan yang sempat kuragukan. Karena dibalik satu ujian-MU, ada beribu-ribu rahmat yang KAU berikan padaku.

 

***

Hasil pemeriksaan keluar, sebuah titik terang disampaikan oleh dokter pagi itu. 4 hari sebelum aku dirawat genap 2 minggu. Ada kemungkinan 25% aku bisa berjalan normal kembali, tergantung semangat dan usaha (dan kutambahkan sendiri, doa) dariku sendiri serta dukungan orang-orang terdekatku. Tapi mengingat kondisi biaya yang tidak sedikit, akhirnya aku memutuskan ingin keluar rumah sakit. Awalnya kakakku keberatan, tetapi setelah aku jelaskan dan kubujuk selama 2 hari ia menyetujuinya. Dokter pun tidak bisa mencegah. Dengan catatan harus tetap rawat jalan, jika ingin sembuh.

 

Kepulanganku kembali ke dormitory disambut meriah oleh orang serumah, hal yang sangat menghangatkan hatiku. Sambil menghitung mundur waktu kontrak kerja habis, semua bahu membahu menemaniku dan memberi semangat untuk sembuh. Silih berganti teman sepabrik menjenguk di dormitory. Bahkan orang yang tidak kukenalpun juga datang. Sungguh, obat yang paling mujarab. Yaitu dorongan semangat yang ditransfer kepadaku untuk berjuang dan bangkit dari keputusasaan. Rasanya masih ingin tertawa, jika mengingat tumpukan oleh-oleh yang memenuhi kamar. Karena saat perpisahan, akhirnya dibagi-bagikan lagi agar tidak mubadzir, sampai-sampai bingung mau diberikan pada siapa lagi karena begitu banyaknya.

 

Tentu saja yang paling repot adalah Mama As. Dia benar-benar menjadi pengganti ibukku. Semua keperluanku diurusinya bersama kakakku. 3 minggu ia mengambil cuti yang tidak pernah diambilnya selama 2 tahun, hanya untuk merawatku. Padahal di sisi lain, teman-teman berlomba-lomba mengejar lemburan untuk tambahan uang saku pulang kampung. Pengorbanan yang terlalu besar untuk diriku ini.

 

Mungkin tanpa transfer semangat dari para sahabat, aku tidak akan pernah merasakan mukjizat. Perkembanganku dalam sebulan begitu pesat. Dokter saja sampai takjub. Walau saat hari terakhirku di pulau Batam, aku masih belum bisa berjalan. Hanya mampu berdiri tegak menopang tubuh, berjalan satu-dua langkah. Tapi itu adalah  hal yang sangat aku syukuri. Dengan selamat mereka bersusah payah mengantarkanku sampai kepelukan keluargaku.

 

Yang aku sesali sampai sekarang adalah aku tidak mempunyai satupun alamat para sahabatku di perantauan, karena buku alamatku hilang entah dimana. Ingin rasanya, sedapat mungkin aku mengunjungi mereka satu per satu. Mengabarkan keadaanku sekarang ini yang telah pulih, normal seperti sediakala. Membagi kebahagiaanku kepada mereka, para malaikat pembawa cahaya saat jalan hidupku terasa gelap gulita.

 

Tapi kuyakin, bahwa Alloh menyampaikan asaku dalam doa-doa kudusku. Selalu ada cinta juga doa untuk mereka. Karena merekalah yang telah memberiku sebelah sayap, semangat tulus dalam doa dan harap. Saat itu, saat tersulit dalam ujian hidupku. Hingga aku bisa lagi tegar berdiri, diatas kedua kakiku.

Sumber : http://www.oaseimani.com/sahabat-yang-memberiku-sayap.html

 

 

About these ads

About SD AL-JIHAD SORONG

Aku ingin belajar dan terus belajar, bantu aku untuk belajar Berikan sedikit Coment anda tuk perbaikan Blog ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s