KEKUATAN CINTA


Sumber asli : halalkan aku ayah

Entah kenapa tiba-tiba saya menekan salah satu tombol ponsel sehingga keluar sebuah nama seorang sahabat yang sudah sekian pekan tak bersua, juga tak saling berkabar. Ada gerakan yang tanpa menunggu instruksi untuk kemudian menekan tombol “yes” untuk memanggil nama tersebut. Setelah sekian lama bercuap, tertawa dan melepas rindu, kami berjanji untuk bertemu keesokan harinya.

Apa yang kita pikirkan kadang jauh meleset dari kenyataan yang sesungguhnya tengah terjadi. Adakalanya sesuatu yang kita anggap berjalan biasa-biasa saja, tanpa sepengetahuan kita ternyata telah terjadi perubahan yang sedemikian cepat karena berjalan tidak biasa, atau bahkan luar biasa. Suatu hal sering kali kita anggap remeh dan bukan hal penting untuk dilakukan, seperti menelepon seorang sahabat, misalnya. Namun ternyata, kita sering terperangah saat sadar kekuatan dari yang kita anggap ‘hal biasa’ itu.

“Jangan lupa bawa isteri dan anakmu ya …” satu kalimat menutup pembicaraan kami.
Baca lebih lanjut

DINDA DI MANA ???


sumber asli : halalkan aku ayah

Gelap masih menyelimuti lelap, bergelayut manja di pelupuk mata. Pulas, karena lelah lembur seharian mengalahkan dingin yang menelusup dari celah dinding. Hening, diselingi dengkuran halus yang silih berganti mengisi sunyi.

‘Uwaaa… uwaaa…,’ tangisan si kecil memecah sepi. Kaget ! Mata mengerjap, perasaan pun masih mengawang. Aah, si kecil ngompol rupanya. Popoknya sudah basah, pingin diganti.

‘Ma… ma… si kecil ngompol nih,’ berbisik perlahan, sambil tangan membangunkan istri yang tampak sangat lelah.

Uwaaa… uwaaa… lebih kencang. ‘Ma, bangun dong digantiin dulu tuh popoknya!’ lebih keras. Sedikit menggeliat, alhamdulillah… akhirnya bangun juga,

‘Bibik…!!!’ Lho???

*****
Baca lebih lanjut

TELAGA KESABARAN


Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran…
“Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…

“Aku capek, sangat capek… Aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek… Aku mau menyontek saja! Aku capek. sangat capek… Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja!… Aku capek, sangat capek … Aku capek karenaaku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung… Aku ingin jajan terus!… Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati… Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk
menghormati teman temanku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepadaku… Aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis. Baca lebih lanjut

TANGISAN PERTAMA YANG MEMBAWA CAHAYA


Oleh : Rudi Al-Farisi

sumber asli : halalkan aku ayah

Malam yang dingin itu, lutfi masih saja asyik dengan kebiasaan lamanya. Mabuk mabukan, judi dengan ditemani wanita seksi, sudah biasa dalam kehidupannya. Disaat semua orang terlena dengan mimpi mimpi tidurnya, ia malah makin nikmat dengan permainan maksiatnya.
Tiba tiba hp nya berdering tanda sms masuk.
Sebentar kawan…ucap lutfi.
Segera pulang,
istrimu sedang dirumah sakit,
ia akan melahirkan.
Spontan ia terkejut. Lalu bergegas menghidupkan sepeda motornya. Sampai dirumah sakit. Mertuanya langsung menyemprot nya dengan bumbu bumbu ceramah. Ia tak ambil pusing, segera saja ia bertanya kepada dokter tentang keadaan istrinya.
Lutfi memang termasuk bandit. Semua orang mengetahuinya. Tetapi ia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada sang istri yang begitu sabar menghadapi sifat bejatnya. Baca lebih lanjut

PINANGAN


Hana semakin menundukkan kepala. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipis dan telapak tangannya. Dia tak pernah menyangka akan mendapatkan tawaran ini dari orangtua asuhnya.

“Apa Mas Irfan kurang tampan? Kurang gagah?” goda Pak Cipto sembari tersenyum lembut.

Pipi Hana bersemu merah. Sekelebat bayangan Irfan, putra tunggal orang tua asuhnya itu melintas. Dokter muda tampan dengan bergudang prestasi. Keshalihannya tak diragukan lagi. Hana mendesah gelisah. Cepat ditepis bayangan itu seraya beristighfar.

“Bagaimana, Nduk? Hanya kamu yang kami harapkan. Bapak dan Ibu tak pernah ragu memilihmu untuk mendampingi Irfan. Insya Allah, akan lahir mujahid-mujahid sejati dari pernikahan kalian,” suara Bu Cipto yang biasanya lembut dan sejuk itu, kini menjelma halilintar di telinga Hana. Kepalanya mendadak pening. Baca lebih lanjut

HATI YANG SUCI & JERNIH


HATI YANG SUCI & JERNIH

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda. Usianya belumlah genap 20 tahun. Namun sayang, kehidupannya sangat merana. Selalu saja ada banyak kesulitan yang dihadapinya. Usahanya sering gagal. Tak banyak yang bisa dilakukannya selain merenungi nasib. Ia bertanya dalam hati, mengapa ada beribu masalah yang selalu ada di sekitarnya.

Suatu ketika, ia mendengar ada seorang bijak yang dapat membantu mengatasi setiap persoalan. Kabarnya, orang tua ini selalu berhasil menolong setiap orang yang datang kepadanya. Sang pemuda pun tertarik untuk datang dan mencari jalan keluar bagi masalah yang di hadapinya. Segera saja di persiapkan bekal untuk melakukan perjalanan menuju ke tempat orang bijak itu berada. Baca lebih lanjut

KARENA ITULAH AKU CINTA


KARENA ITULAH AKU CINTA


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa?

Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.


Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Baca lebih lanjut