Kisah Seorang Putri Sholihah yang Menakjubkan


Kisah seorang wanita yang bernama ‘Abiir yang sedang dilanda penyakit kanker. Ia mengirimkan sebuah surat berisi kisahnya ke acara keluarga mingguan “Buyuut Muthma’innah” (rumah idaman) di Radio Qur’an Arab Saudi, lalu menuturkan kisahnya yang membuat para pendengar tidak kuasa  menahan air mata mereka. Kisah yang sangat menyedihkan ini dibacakan di salah satu hari dari  sepuluh terakhir di bulan Ramadhan lalu (tahun 2011). Berikut ini kisahnya –sebagaimana dituturkan kembali oleh sang pembawa acara DR Adil Alu Abdul Jabbaar- :

Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita dan mengagumkan, bahkan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kecantikannya merupakan tanda kebesaran Allah. Setiap lelaki yang disekitarnya berangan-angan untuk memperistrikannya atau menjadikannya sebagai menantu putra-putranya. Hal ini jelas dari pembicaraan ‘Abiir tatkala bercerita tentang dirinya dalam acara Radio Qur’an Saudi “Buyuut Muthma’innah”. Ia bertutur tentang dirinya:

Baca lebih lanjut

GURU


Tak tahu apa sebabnya, tapi hal-hal ini mulai berdatangan memenuhi pikiran ku.

Aku mulai bertanya apa ini dan itu tentang “keagamaan” yang telah diajarkan pada ku, tapi baru akhir-akhir ini aku baru mempertanyakan bagaimana-bagaimananya.

Aku mencari diantara orang-orang di sekitar ku yang mau aku ajak sharing, dan aku menemukan mereka. Alhamdulillah,, =)

Orang pertama yang aku temukan aku ajak sharing tentang masalah yang biasa muncul sehari-hari, seperti shalat, najis, sejarah nabi dan kaum terdahulu, semacam itu.

Orang kedua yang aku temukan aku ajak sharing tentang bagaimana ya menyebutkannya, “metafisika” atau apa ya,, akan aku jelaskan nanti, hehe

Orang ketiga yang aku temukan aku ajak sharing hal yang sama seperti orang kedua, namun orang ketiga ini lebih menitik beratkan pada apa yang aku sebut “pengalaman”. Dia berbagi karena dia benar-benar telah dan pernah mengalaminya.

Sebenarnya lucu juga kalau aku bilang sharing, karena mereka yang membagi ilmu mereka kepadaku, bukan kami saling berbagi ilmu, hehe

Nah, tentang orang kedua,,

entah perbincangan ke berapa, karena banyak yang telah kami perbincangkan, akhirnya dia mengajukan tiga pertanyaan :

    1. Siapa Tuhan mu?

Kalau belum dijawab ndak bisa ke pertanyaan selanjutnya, dan aku menjawab,”Allahu Rabbi”

    2. Apa yang Allah inginkan?

Dia bilang seseorang bisa menjawab ini kalau dia benar-benar Beriman kepada Allah. Pertanyaan ini adalah pertanyaan tingkatan, maksudnya jawabannya berbeda-beda, tergantung sampai mana dia mengenal Tuhannya. Dan ia meluluskan jawabanku, lalu berlanjut ke pertanyaan ke-3;

    3. Dimana Allah?

Aku menjawab,” aku ndak tahu dimana Allah bagi yang lain. tapi bagiku Allah ada di hatiku “ Baca lebih lanjut

Engkaulah Orang Yang Ku Sanyangi




Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Baca lebih lanjut

ANIS


Teng !…jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi Anis masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam. Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Iqbal, suaminya, menelepon, “Nis, Alhamdulillah, barusan ini keponakanmu bertambah lagi…” suara ibu terdengar sumringah di ujung sana.

“Alhamdulillah…, laki-laki atau perempuan Bu ?” Anis tergagap, kaget dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Iqbal memang sedang berdebar-debar menanti berita Dini, adik suaminya, yang akan melahirkan.

“Laki-laki, cakep lho Nis, mirip Mas mu waktu bayi…” Ibu tertawa bahagia. Dini memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Iqbal.

“Selamat ya Bu nambah cucu lagi, salam buat Dini, insya Allah besok pulang kerja Anis dan Mas Iqbal akan jenguk ke rumah sakit” janji Anis sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Dini di rumah sakit.

Setelah menutup telpon Anis termenung sesaat. Ia jadi teringat usia pernikahannya yang telah memasuki tahun ke lima, tapi belum juga ada tangis si kecil menghiasi rumah mereka. Meskipun demikian ia tetap ikut merasa sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak kedua Dini di usia pernikahan mereka yang baru tiga tahun. Baca lebih lanjut

Lelaki, Hujan, dan Mawar Putih


sumber : HAA

 

Aku menatap langit. Sekilas semburat kemerahan bercampur hitam menutupi kerlip bintang yang tadi riang-riang. Mendung kian menebal, barisan kendaraan di depanku yang berpacu dengan waktu hanya mampu bergerak perlahan mendekati lampu merah di persimpangan Tohpati. Perjalanan masih jauh, aku harus sampai di Ubud malam ini juga.
Kupacu sepeda motorku, meliuk-liuk diantara barisan mobil yang bergerak perlahan. Mendadak kaca helmku buram terkena percikan air, gerimis mulai turun. Sempurna, aku benci berhujan-hujan! Umpatku dalam hati.

Mataku yang kupaksa awas tiba-tiba menangkap sosok di kejauhan. Sosok itu berjalan lambat-lambat menuntun vespa yang sedikit miring ke kanan, menahan berat mesin. Aku telah menghapal sosoknya yang telah kurekam dalam otakku selama beberapa minggu terakhir. Itu memang dia. Lelaki itu.

Lampu sein motorku masih berkedap kedip ketika menghampirinya. Tak kuhiraukan klakson nyaring mobil di belakangku.

“Mogok?” Tanyaku.

“Iya.” Wajahnya sedikit terkejut. Mungkin tak menyangka akan bertemu aku di sini.

Guyuran hujan meningkahi suaraku, juga meningkahi langkah lelaki ini yang cepat-cepat masuk ke sebuah bengkel yang telah tutup. Aku memarkir sepeda motorku di sebelah vespanya. Hening.
Baca lebih lanjut

KEKUATAN CINTA


Sumber asli : halalkan aku ayah

Entah kenapa tiba-tiba saya menekan salah satu tombol ponsel sehingga keluar sebuah nama seorang sahabat yang sudah sekian pekan tak bersua, juga tak saling berkabar. Ada gerakan yang tanpa menunggu instruksi untuk kemudian menekan tombol “yes” untuk memanggil nama tersebut. Setelah sekian lama bercuap, tertawa dan melepas rindu, kami berjanji untuk bertemu keesokan harinya.

Apa yang kita pikirkan kadang jauh meleset dari kenyataan yang sesungguhnya tengah terjadi. Adakalanya sesuatu yang kita anggap berjalan biasa-biasa saja, tanpa sepengetahuan kita ternyata telah terjadi perubahan yang sedemikian cepat karena berjalan tidak biasa, atau bahkan luar biasa. Suatu hal sering kali kita anggap remeh dan bukan hal penting untuk dilakukan, seperti menelepon seorang sahabat, misalnya. Namun ternyata, kita sering terperangah saat sadar kekuatan dari yang kita anggap ‘hal biasa’ itu.

“Jangan lupa bawa isteri dan anakmu ya …” satu kalimat menutup pembicaraan kami.
Baca lebih lanjut

DINDA DI MANA ???


sumber asli : halalkan aku ayah

Gelap masih menyelimuti lelap, bergelayut manja di pelupuk mata. Pulas, karena lelah lembur seharian mengalahkan dingin yang menelusup dari celah dinding. Hening, diselingi dengkuran halus yang silih berganti mengisi sunyi.

‘Uwaaa… uwaaa…,’ tangisan si kecil memecah sepi. Kaget ! Mata mengerjap, perasaan pun masih mengawang. Aah, si kecil ngompol rupanya. Popoknya sudah basah, pingin diganti.

‘Ma… ma… si kecil ngompol nih,’ berbisik perlahan, sambil tangan membangunkan istri yang tampak sangat lelah.

Uwaaa… uwaaa… lebih kencang. ‘Ma, bangun dong digantiin dulu tuh popoknya!’ lebih keras. Sedikit menggeliat, alhamdulillah… akhirnya bangun juga,

‘Bibik…!!!’ Lho???

*****
Baca lebih lanjut