TANGISAN PERTAMA YANG MEMBAWA CAHAYA


Oleh : Rudi Al-Farisi

sumber asli : halalkan aku ayah

Malam yang dingin itu, lutfi masih saja asyik dengan kebiasaan lamanya. Mabuk mabukan, judi dengan ditemani wanita seksi, sudah biasa dalam kehidupannya. Disaat semua orang terlena dengan mimpi mimpi tidurnya, ia malah makin nikmat dengan permainan maksiatnya.
Tiba tiba hp nya berdering tanda sms masuk.
Sebentar kawan…ucap lutfi.
Segera pulang,
istrimu sedang dirumah sakit,
ia akan melahirkan.
Spontan ia terkejut. Lalu bergegas menghidupkan sepeda motornya. Sampai dirumah sakit. Mertuanya langsung menyemprot nya dengan bumbu bumbu ceramah. Ia tak ambil pusing, segera saja ia bertanya kepada dokter tentang keadaan istrinya.
Lutfi memang termasuk bandit. Semua orang mengetahuinya. Tetapi ia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada sang istri yang begitu sabar menghadapi sifat bejatnya. Baca lebih lanjut

PINANGAN


Hana semakin menundukkan kepala. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipis dan telapak tangannya. Dia tak pernah menyangka akan mendapatkan tawaran ini dari orangtua asuhnya.

“Apa Mas Irfan kurang tampan? Kurang gagah?” goda Pak Cipto sembari tersenyum lembut.

Pipi Hana bersemu merah. Sekelebat bayangan Irfan, putra tunggal orang tua asuhnya itu melintas. Dokter muda tampan dengan bergudang prestasi. Keshalihannya tak diragukan lagi. Hana mendesah gelisah. Cepat ditepis bayangan itu seraya beristighfar.

“Bagaimana, Nduk? Hanya kamu yang kami harapkan. Bapak dan Ibu tak pernah ragu memilihmu untuk mendampingi Irfan. Insya Allah, akan lahir mujahid-mujahid sejati dari pernikahan kalian,” suara Bu Cipto yang biasanya lembut dan sejuk itu, kini menjelma halilintar di telinga Hana. Kepalanya mendadak pening. Baca lebih lanjut

KARENA ITULAH AKU CINTA


KARENA ITULAH AKU CINTA


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa?

Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.


Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Baca lebih lanjut

LANTUNAN CINTA SANG PENCINTA


LANTUNAN CINTA SANG PENCINTA


oleh: Hanun Al-Qisthi

Lewat ekor mata, aku tau matanya yang sipit kecoklatan memandangku lagi. Tetap tajam namun lembut, seperti biasanya. Bibirnya terbuka hendak berkata-kata, namun mungkin rasa segan membuatnya terkatup lagi. Dengan handuk putih bertengger di bahu, ia membalikkan badan membelakangiku. Pergi. Aku diam sejenak lalu mengoleskan metal polish pada baritone kesayanganku, menggosoknya sampai berwarna hitam dan melapnya sampai bersih. Pantulan sinar dari tutsnya menandakan baritone ini selalu terawat dengan rapi. Irio dan Laode tersenyum iri padaku. Baritone mereka tidak pernah semengkilap milikku, padahal kami membersihkannya bersama-sama dua kali seminggu. “Ngiri ya? Hehehe… Nggosoknya yang bener dong , kan udah aku ajarin”, ujarku. Mereka hanya bisa memajukan bibirnya 2 cm.

“Murid lesnya masih banyak mbak Wina?”, si pemilik mata sipit sudah berdiri di depanku saat kudongakkan kepala. Senyumnya mengembang, memamerkan deretan gigi yang kecoklatan karena nikotin.

“Masih, Kak. Sekarang malah ada murid yang baru. Alhamdulillah…” Kumasukkan baritone ke dalam plastik pembungkus lalu meletakkannya dengan hati-hati ke dalam peti. Aku berlalu dari hadapannya tanpa kata-kata. Aku tau mulutnya terbuka lagi, namun aku segera berlari menyusul teman-temanku menuju gerbang kampus. Kugapai bahu Asma lalu tawa kami berderai seperti biasanya. Dari kejauhan kulihat ia melindungi wajahnya dari sorotan mentari senja. Pandangannya tertuju padaku.
*********
Baca lebih lanjut

SAHABAT YANG MEMBERIKU SAYAP


SAHABAT YANG MEMBERIKU SAYAP

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 

“Sampai aku mati, tetaplah disampingku ….” rasanya itu adalah pernyataan paling ekstrim seumur hidupku. Kalimat yang sekitar 6 tahun lalu kuucapkan ditengah semangat yang mendekati keputusasaan.

 

Menyusuri kembali peristiwa 6 tahun lalu yang lalu. Sebuah permata yang akan selalu aku simpan baik-baik dalam relung hatiku. Jika ada sahabat yang melebihi kerabat. Hanya satu orang yang bisa kupercaya dalam segalanya. Ia yang menjelma layaknya malaikat pembawa cahaya. Ukhty As…

 

***

Namanya Astutik, tetapi semua teman memanggilnya Mama As, hal itu bukannya tanpa alasan. Sosoknya yang pendiam, keibuan plus telaten membuat semua sepakat memanggilnya demikian. Sampai sekarang pun aku tidak mengenal lebih dalam sosok satu ini. Karena pertemuan kami hanyalah sekejap saja. Setidaknya itulah yang kurasakan. Padahal kami 2 tahun tinggal bersama dalam satu atap, dormitory Blok P2-2-1 Yellow Face Batamindo. Kesibukan dalam pekerjaan, shift yang tidak berbarengan, waktu yang tersita oleh lemburan menjadikan komunikasi sulit terjalin. Sampai saat ini malu selalu menyeruak dalam hatiku ketika memoar ini berjalan kembali ke masa itu. Saat tersulit dalam ujian hidupku.

 

*** Baca lebih lanjut

GADIS KECIL BERHATI SAMUDERA


GADIS KECIL BERHATI SAMUDERA ( Kisah Nyata)

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

 

Ini adalah kisah nyata; Yu Yuan, gadis kecil berhati mulia yang berjuang hidup dari leukimia ganas, yang rela melepaskan segala-galanya dan menyumbang untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Bacalah dengan hati nurani akan ada ketakjuban di sana.

 

Kisah tentang seorang gadis kecil cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut. Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Tionghua di seluruh dunia. Dana tersebut dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian.

Baca lebih lanjut

KU LEPASKAN KAU DENGAN SENYUM


KU LEPASKAN KAU DENGAN SENYUM (Kisah Nyata)

Bismillahir-Rahmanir-Rahim…

Kukenal dia ketika aku semester awal S1 di fakultas Farmasi pada salah satu Universitas Swasta terbesar di Makassar. Nisa (nama samaran). itulah namanya, kesanpertama yang kudapatkan tentangnya. Subhanallah Allah menganugrahkan keelokan padanya dengan mengindahkan rupanya. Nisa gadis yang sangat cantik, kulitnya putih bersih, wajah yang begitu sempurna dengan tahi lalat di matanya. Bolamata yang indah dengan pancaran kecerdasan yang begitu jelas. Dia juga sangat wangi, wangi yang sangat lembut, yang sampai sekarang masih mampu kuingat. Penampilannya sama dengan teman-teman kuliahku, jilbab kecil tipis yang dililit atau dipeniti dengan sangat rapi, dia sangat suka menggunakan jilbab merah dan pink, sangat cocok dengan kulitnya yang putih.

Baca lebih lanjut