Sandal Jepit Istriku


Posted on mei, 24 2011 by sdaljihad

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan.

“Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan… kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

“Sabar bi…, rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem.
“Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.
♥ ♥ ♥ ♥ Baca lebih lanjut

Kau Menghujaniku dengan Seribu Nikmat


Jam 3 pagi, aku terjaga dari tidur nyenyakku. Kulihat Nida masih pulas di sampingku. Aku tak membangunkannya karena aku tahu Nida sedang berhalangan untuk shalat. Lalu aku beranjak dari tempat tidur dan kubuka pintu. Semua masih terlelap tidur, sepi. Kemudian aku berjalan ke halaman belakang, aku berwudhu dengan air dingin yang mengalir dari kran. Alhamdulillah Ya Allah Engkau masih memberiku nikmat berwudhu. Kulewatkan pagi itu dengan sujud2 panjangku. Aku begitu merindukan-Mu Wahai Kekasihku. Ampuni segala dosa2ku.

Tenangnya hati ini saat bercengkerama dengan-Mu. Kutumpahkan segala keluh kesahku. Kuceritakan semua galau di hatiku. Kusyukuri atas nikmat dan karunia-Mu yang tiada terkira. Ya Allah, jika Engkau berkenan maka ijinkan hamba untuk segera menunaikan sunah Rasul, menggenapkan separo din. “Mbak, ada teman Bang Arul yang minta dicariin istri. Baca lebih lanjut

Seindah Ketika Cinta Bertasbih


Awalnya, aku bertemu dengannya di sebuah acara yang diselenggarakan di rumahku sendiri. Gadis itu sangat berbeda dengan cewek-cewek lain yang sibuk berbicara dengan laki-laki dan berpasang-pasangan. Sedangkan dia dengan pakaian muslimah rapi yang dikenakannya membantu mamaku menyiapkan hidangan dan segala kebutuhan dalam acara tersebut. Sesekali gadis itu bermain di taman bersama anak-anak kecil yang lucu, kulihat betapa lembutnya dia dengan senyuman manis kepada anak-anak. Dari sikapnya itu aku tertarik untuk mengenalnya.

Akhirnya dengan pede-nya keberanikan diri untuk mendekatinya dan hendak berkenalan dengannya. Namun, kenyataannya dia cuek padaku mengatakan, “Maaf…” dan berlalu begitu saja. Betapa malunya aku terhadap teman-teman yang berada di sekitarku.“Ini cewek kok jual mahal banget !” Padahal begitu banyak cewek yang justru berlomba-lomba mau jadi pacarku. Dia, mau kenalan saja tidak mau !” ujarku. Dari kejadian itu aku menjadi penasaran dengan gadis tersebut. Lalu aku mencari tahu tentangnya. Ternyata dia adalah anak tunggal sahabat rekan bisnis papa. Setiap ada acara pertemuan di rumah gadis itu, aku selalu ikut bersama papa. Baca lebih lanjut

Setangkup Cinta Pesantren Impian


“Riri, apakah kamu mau berbuka puasa bersama dengan para santri di pesantren?, “pertanyaan Bu Nur Nira membelah kesunyian ruang tamu mungil di senja itu. Udara seakan berhenti bergerak dan waktu berhenti berdentang. Riri sangat terkejut mendengar pertanyaan guru mengajinya itu. Ia memandang Bu Nur Nira lekat-lekat.

“Apakah ia sedang bercanda? Tapi sepertinya ia tidak main-main,” gumam Riri dalam hati. Tidak pernah terbersit dalam pikiran Riri sebelumnya untuk berbuka puasa bersama di pesantren. Pesantren. Mendengar kata yang satu itu, seketika kenangan Riri menyeruak, kembali ke lembaran kehidupannya beberapa tahun yang lalu. Episode impian masa remajanya yang terlupakan.

“Aku ingin masuk pesantren, Ibu,” kata-kata Riri sangat mengejutkan ibunya, belum lama berselang sejak Riri memasuki gerbang cahaya Sang Maha Cinta. Ibu Riri menatap putrinya yang telah menginjak remaja itu dengan penuh tanda tanya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Riri. Sebagai ibu yang baik, ia berusaha keras memahami dan menerima perubahan-perubahan dalam diri Riri walau sebenarnya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung terjawab di dalam benaknya.

Riri memandang Ibu yang terdiam seribu basa. Ia tahu, Ibu sangat mencintai dan menyayanginya. Jarang sekali permintaannya ditolak dan rasa-rasanya kali inipun tidak jauh berbeda.

“Mengapa harus ke pesantren, Ri?” tanya Ibu sambil menghela nafas panjang. “Kamu tahu kan, kamu anak perempuan Ibu satu-satunya. Kalau kamu pergi, lantas siapa yang akan menemani Ibu? Apakah tidak bisa belajar agama Islam di sini saja?”

“Tapi aku ingin belajar di pesantren, Bu. Aku bisa belajar lebih mendalam dan  konsentrasi di sana. Lagipula biayanya tidak mahal kok, Bu,” sanggah Riri. Baca lebih lanjut

istri terbaik


KISAH PERJALANAN CINTA YANG MENGHARUKAN (ISTRI TERBAIK)

Cerita Nyata!!

KISAH PERJALANAN CINTA YANG MENGHARUKAN (ISTRI TERBAIK) Cerita Nyata!!

Cerita ini adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

 ***

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita…

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…

Pernikahan kami sederhana namun meriah…

Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu…

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci…

Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya. Baca lebih lanjut

Ketika Anakku Bertanya “Bu, Siapa sih Marlyn Monroe ?”


Aisyah, anakku yang berusia 7 tahun mengalihkan pandangannya

pada jadwal pertandingan sepakbola di sebuah Koran. Tapi

tiba-tiba saja ia bertanya,

“Bu, siapa sih Marilyn Monroe itu?”

“Oooh… itu bintang film Amerika yang terkenal,” jawabku

sekenanya. Baca lebih lanjut

Kisah Sebuah Pernikahan


Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya

saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan

justru rasa haru biru. Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada

satupun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu.

Beliau yang paling keras menentang perkawinanku. Baca lebih lanjut