SD IDOLAKU

GURU


Tak tahu apa sebabnya, tapi hal-hal ini mulai berdatangan memenuhi pikiran ku.

Aku mulai bertanya apa ini dan itu tentang “keagamaan” yang telah diajarkan pada ku, tapi baru akhir-akhir ini aku baru mempertanyakan bagaimana-bagaimananya.

Aku mencari diantara orang-orang di sekitar ku yang mau aku ajak sharing, dan aku menemukan mereka. Alhamdulillah,, =)

Orang pertama yang aku temukan aku ajak sharing tentang masalah yang biasa muncul sehari-hari, seperti shalat, najis, sejarah nabi dan kaum terdahulu, semacam itu.

Orang kedua yang aku temukan aku ajak sharing tentang bagaimana ya menyebutkannya, “metafisika” atau apa ya,, akan aku jelaskan nanti, hehe

Orang ketiga yang aku temukan aku ajak sharing hal yang sama seperti orang kedua, namun orang ketiga ini lebih menitik beratkan pada apa yang aku sebut “pengalaman”. Dia berbagi karena dia benar-benar telah dan pernah mengalaminya.

Sebenarnya lucu juga kalau aku bilang sharing, karena mereka yang membagi ilmu mereka kepadaku, bukan kami saling berbagi ilmu, hehe

Nah, tentang orang kedua,,

entah perbincangan ke berapa, karena banyak yang telah kami perbincangkan, akhirnya dia mengajukan tiga pertanyaan :

    1. Siapa Tuhan mu?

Kalau belum dijawab ndak bisa ke pertanyaan selanjutnya, dan aku menjawab,”Allahu Rabbi”

    2. Apa yang Allah inginkan?

Dia bilang seseorang bisa menjawab ini kalau dia benar-benar Beriman kepada Allah. Pertanyaan ini adalah pertanyaan tingkatan, maksudnya jawabannya berbeda-beda, tergantung sampai mana dia mengenal Tuhannya. Dan ia meluluskan jawabanku, lalu berlanjut ke pertanyaan ke-3;

    3. Dimana Allah?

Aku menjawab,” aku ndak tahu dimana Allah bagi yang lain. tapi bagiku Allah ada di hatiku “

Padahal dia bilang, saat kita membicarakan Allah maka kita membicarakan makhluq-Nya (segala ciptaan-Nya), dan begitu pula saat kita membicarakan makhluq-Nya maka kita membicarakan Allah.

Aku jawab pertanyaan ke-3 itu dua hari yang lalu, dan belum mendapatkan “ACC“, aku tak tahu bagaimana mengistilahkannya. Dia bilang kalau aku mampu menjawab ketiga pertanyaan di atas dia akan memberitahu sesuatu.

“Berarti jawabannya bukan dihatiku, tapi saat aku kalut bertanya-tanya ,’Dimana Allah?’, saat itu aku benar-benar merasa Dia ada dihatiku.”

Beberapa artikel didukung dengan hadits-hadits memang menyebutkan Allah itu ‘di atas langit’, ‘di Arsy’. Lantas berdosakah aku merasa Allah ada dihatiku? tentu pun bukan ‘dzat Allah’ yang aku maksud ada dihatiku,, tapi kedekatanku, aku merasa Dia dekat. Dan itu dihatiku.

Ada pergolakan dihati ku, kenapa aku begitu sombong menjawab Allah bagiku ada di hatiku? Itu menyebabkan aku berfikir, merenung dan termenung, apakah Allah telah menjadi tumpuan dalam hidupku? Apakah yang aku pikir, rasa, lakukan dan laksanakan sentiasa merujuk kepada-Nya? Bila berselisih antara kehendak-Nya dengan kehendakku, kehendak siapa yang aku dahulukan? Sanggupkah aku menyayangi hanya karena-Nya? Membenci juga karena-Nya?

Aku bertanya kembali pada diri, bagaimanakah sikapku terhadap hukum-hukum-Nya? Sudahkah aku melawan hawa nafsu untuk patuh dan melakukan segala yang wajib sekalipun pahit dan sakit ketika melaksanakannya? Sudahkah aku meninggalkan segala yang haram walaupun kelihatan indah ketika ingin melakukannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya telah menimbulkan lebih banyak persoalan. Bukan lagi akal yang menjawabnya, tetapi rasa hati yang amat dalam. Aku tidak dapat mendustai-Mu, ya Allah. Dan Aku juga tidak dapat mendustai diriku sendiri. Di hatiku masih ada dua cinta yang bergolak dan berbolak-balik. Antara cinta Allah dan cinta dunia yang sedang berperang begitu hebat dan dahsyat sekali.

“Dimanakah DIA di hatiku?”, Apakah Allah senantiasa menjadi tempat bergantungnya harapan dan tempat merujuk dan membujuk hatiku yang rawan? Allah ciptakan manusia hanya dengan satu hati. Di sanalah sewajarnya cinta Allah bersemi. Jikalau cinta Allah yang bersinar, sirnalah segala cinta yang lain. Tetapi jika sebaliknya cinta selain-Nya yang bersemayam, maka cinta Allah akan terpinggir. Ketika itu tiada DIA di hatiku!

Allahu rabbi,, Justru belum adanya ENGKAU di hatiku, hidupku belum bahagia, belum tenang dan belum sejahtera. Aku akan terus mencari dengan segala NIAT ku. Engkau akan memberi petunjuk kepada yang Engkau kehendaki dan menyesatkan kepada mereka yang tidak Engkau kehendaki.

Ya Allah, mohon pertemukan aku dengan seseorang seperti “tetehnya”,,
mohon pertemukan aku dengan seseorang yang mampu membimbingku kepada-Mu.

watashi wa, ANATA o aishite To watashi wa ANATA o ketsujō

COPI dari postingan teman


5 Komentar

  1. featherapocalypse mengatakan:

    ini kisah nyataku Pak,
    hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

maktabah syamillah

AL JIHAD FANS

SALAM ADMIN

Assalamu'alaikum
Mohon Maaf
Kepada para pengunjung yang mungkin aja berkomentar dan tidak muncul di artikel, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami sendiri tidak faham kenapa bisa langsung masuk spam.
Mohon dimaklumi
Wassalamualaikum
TTD
Bustanul Arifudin
(admin) TLP (0951)321033
%d blogger menyukai ini: