SD IDOLAKU

Beranda » KISAH TELADAN

Category Archives: KISAH TELADAN

Kisah Seorang Putri Sholihah yang Menakjubkan


Kisah seorang wanita yang bernama ‘Abiir yang sedang dilanda penyakit kanker. Ia mengirimkan sebuah surat berisi kisahnya ke acara keluarga mingguan “Buyuut Muthma’innah” (rumah idaman) di Radio Qur’an Arab Saudi, lalu menuturkan kisahnya yang membuat para pendengar tidak kuasa  menahan air mata mereka. Kisah yang sangat menyedihkan ini dibacakan di salah satu hari dari  sepuluh terakhir di bulan Ramadhan lalu (tahun 2011). Berikut ini kisahnya –sebagaimana dituturkan kembali oleh sang pembawa acara DR Adil Alu Abdul Jabbaar- :

Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita dan mengagumkan, bahkan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kecantikannya merupakan tanda kebesaran Allah. Setiap lelaki yang disekitarnya berangan-angan untuk memperistrikannya atau menjadikannya sebagai menantu putra-putranya. Hal ini jelas dari pembicaraan ‘Abiir tatkala bercerita tentang dirinya dalam acara Radio Qur’an Saudi “Buyuut Muthma’innah”. Ia bertutur tentang dirinya:

(lebih…)

Membebaskan Utang Orang yang Susah, Maka Allah pun Membebaskannya


BorgolDari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda:

كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُوْلُ لِقَتَهُ: إِذَا جِئْتَ مُعْسِرًا، فَتَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، قَالَ: فَلَقِيَ اللهُ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ (متفق عليه)

“Ada seorang laki-laki yang (suka) memberi utang kepada orang lain, kepada pelayannya ia berkata, ‘Jika engkau mendatangi orang miskin maka bebaskanlah (utangnya), mudah-mudahan Allah membebaskankita (dari siksa-Nya)’. Beliau bersabda,‘Maka orang itu menjumpai Allah dan Allah pun membebaskannya (dari siksa)’.” (Muttafaq Alaih; Al-Bukhari, 6/379 dalam Al-Anbiya’ dan Muslim, 1562).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu Mas’ud ia berkata, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اْلمَلاَئِكَةَ لَتَلَقَّتْ رُوْحَ رَجُلٍ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَقَالُوْا لَهُ: هَلْ عَمِلْتَ خَيْرًا قَطْ؟ قَالَ لاَ: قَالُوْا: تَذَكَّرْ، قَالَ:لاَ، إِلاَّ أَنَّيْ كُنْتُ أُدَايِنُ النَّاسُ، فَكُنْتُ آمُرُ فِتْيَانِيْ أَنْ يَنْظُرُوْا اْلمُوْسِرَ، وَيَتَجَاوَزُوْا عَنْ اْلمُعْسِرِ. قَالَ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:تَجَاوَزُوْا عَنْهُ (متفق عليه) (lebih…)

Kisah nyata: Su’ul khatimah (akhir yang buruk) wanita yang tak pernah shalat, mati saat sedang berdandan


Temanku berkata kepadaku, “Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat.

Di sana aku melihat empat wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan memintaku agar menolongnya memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya, ‘Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita.’ Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar. (lebih…)

Antara Canda dan Tangis Syaikh Ibnu Baz


Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa di Saudi Arabia). Meski beliau adalah seorang ulama besar kelas internasional namun di antara sisi-sisi kehidupan beliau juga terdapat guyon dan canda. Seorang ulama tidak harus hanya menjalani hidup dengan keseriusan. Canda yang tepat dan proposional adalah bagaikan garam bagi kehidupan kita.

Jika ada seorang yang berkunjung ke rumah Syaikh Ibnu Baz maka beliau pasti menawari orang tersebut untuk turut makan malam bersama beliau. Jika orang tersebut beralasan, “Wahai Syaikh, saya tidak bisa” maka dengan nama berkelakar Ibnu Baz berkata, “Engkau takut dengan istrimu ya?! Marilah makan malam bersama kami”. (lebih…)

Syaikh Albani Pun Menangis…


Percakapan ini terjadi antara Syaikh Albani rahimahullah dan seorang wanita dari algeria [didengar dari rekaman suaranya, kemungkinan besar komunikasi ini terjadi melalui telpon, atau ketika diadakannya ceramah oleh Syaikh.

[wanita] : Ya Syaikh! Saya mempunyai berita!

•►[Syaikh] :
Saya berharap Allah merahmatimu dengan berita bagus.

[wanita] : Salah satu akhwat pernah bermimpi, dan saya akan memberitahukannya kepada engkau.

•►[Syaikh] :
Saya berharap dia melihat sesuatu yang baik.

[Wanita] : Ya Syaikh! apakah jika seseorang ingin menceritakan mimpinya kemudian mengatakan “Saya harap kamu melihat sesuatu yang bagus dan berharap itu bagus” Apakah itu sesuai dengan sunnah?”

•►[Syaikh] :
Tidak, ucapan ini tidak ada dalam sunnah, tapi tidak mengapa mengucapkannya
(lebih…)

Abdullah bin Al-Mubarak


Beliau (Ibnul Mubarak) biasa pulang pergi ke Tharasusu dan biasanya saat di tengah perjalanan bila hari telah menjelang malam, beliau segera singgah beristirahat di sebuah penginapan. Di penginapan itu, ada seorang pelayan muda biasa mengurus kebutuhannya. Dan yang lebih menarik perhatian Ibnul Mubarak adalah bahwa pemuda itu ditengah pekerjaan melayani dirinya, juga sangat rajin belajar hadits dengannya. Semangat belajarnya sangat tinggi. Pekerjaanya sebagai pelayan tidak menghalangi untuk terus dan terus memepelajari hadits.

Hingga suatu hari, beliau kembali singgah ke penginapan itu, namum tidak mendapati pemuda tersebut. Saat itu beliu memang sangat tergesa-gesa untuk berperang bersama tentara muslimin, sehingga beliau tidak sempat menanyakan hal itu. Barulah setelah pulang dari peperangan dan kembali kepenginapan, beliau segera menanyakan perihal pemuda tersebut. Orang-orang memberitahukan padanya bahwa pemuda itu kini tengah ditahan karena terlibat hutan yang belum dibayarnya. Maka demi mendengar penjelasan itu, beliau segera bertanya, “Berapakah besar hutangnya, sampai ia tak mampu membayarnya ?”
“Sepuluh ribu dirham,” jawab mereka.
(lebih…)

Mualaf Cassiano: Melihat Kabah Membuatku Terus Menangis


REPUBLIKA

Perjalanan spiritual untuk menjadi mualaf seringkali menggetarkan kalbu. Itu pula yang dialami oleh mualaf asal Brasil bernama Cassiano. Berikut adalah penuturannya menemukan hidayah:

Saya pernah berkata, “Ya Tuhan, keluarkanlah saya dari negara ini atau saya akan mati”.

Saya dilahirkan di Brasil, di sebuah tempat bernama Petrolina. Saya tidak pernah paham mengapa orang menganut agama.Karena bagi saya agama seperti sebuah fiksi. Maka, saya pun mulai menjauhkan diri dari gereja, dan saya mula pergi ke arah yang bertentangan.

(lebih…)

%d blogger menyukai ini: